Perkembangan prosedur estetika semakin bergerak ke arah peningkatan kualitas kulit secara menyeluruh. Kebutuhan terhadap tindakan yang mampu membantu memperbaiki skin laxity, tekstur, elastisitas, hingga tampilan acne scar pun terus berkembang.
Topik inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam ARUNA International Summit 2026, ketika dr. Edwin Tanihaha, Sp.KK., Dip.AAAM., M.Kes., FKCCS, Dip. Aesthetic Medicine, FINSDV, FAADV membawakan materi bertajuk “PCL Revolution: Skin Rejuvenation and Acne Scar Management Rising Demand.”
Dalam paparannya, dr. Edwin membahas bagaimana perkembangan teknologi polymeric biostimulator membuka pendekatan baru dalam prosedur estetika melalui penggunaan Polycaprolactone (PCL) sebagai collagen stimulator.
Dari Volumization Menuju Skin Quality
Dalam praktik estetika modern, prosedur minimally invasive semakin banyak digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan estetika wajah. Salah satu kelompok tindakan yang terus berkembang adalah penggunaan biostimulatory agents.
Tidak hanya berfokus pada volumisasi, biostimulatory agents diarahkan untuk menstimulasi respons jaringan sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas kulit.
dr. Edwin menjelaskan bahwa biostimulatory agents dapat digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan, antara lain:
- Skin rejuvenation
- Improve skin laxity and texture
- Enhance skin thickness, elasticity, and hydration
- Facial contouring
- Structural support
Mengenal P-PCL
Polycaprolactone (PCL) telah digunakan secara luas dalam bidang biomedis dan memiliki berbagai aplikasi, termasuk absorbable sutures, tissue engineering, dan regenerative medicine.
Dalam perkembangan teknologi PCL, hadir P-PCL (Porous Polycaprolactone) dengan struktur partikel berpori yang memberikan karakteristik berbeda dari microsphere PCL konvensional.
P-PCL menggunakan partikel berukuran sekitar 25–50 μm dan dikombinasikan dengan CMC-based gel carrier.
Sementara itu, CMC (Carboxymethylcellulose) merupakan material yang telah lama digunakan dalam berbagai aplikasi medis, farmasi, kosmetik serta industri makanan. CMC juga dikenal memiliki profil keamanan yang baik dalam berbagai penggunaannya.
Dengan karakteristik tersebut, formulasi P-PCL dirancang sebagai material yang biocompatible, biodegradable, dan bioresorbable.
Dalam sesi ini, P-PCL yang dibahas adalah Lafullen, P-PCL Collagen Biostimulator yang dikembangkan menggunakan SEP Technology (Samyang’s Evenly distributed Porous particle Technology).
Lafullen menggunakan SEP Technology untuk menghasilkan highly homogeneous P-PCL microspheres yang memiliki unique pores dan smooth surfaces. Teknologi ini menghasilkan microsphere dengan ukuran yang seragam, struktur berpori, serta permukaan yang halus untuk mendukung distribusi partikel yang lebih merata.
Lafullen merupakan bagian dari perkembangan generasi ketiga collagen stimulator, yang membawa pengembangan lebih lanjut pada karakteristik ukuran, struktur, dan permukaan microsphere.
Apa yang Membuat P-PCL Berbeda?
Salah satu karakteristik utama adalah porosity pada microsphere P-PCL.
Karena memiliki pori, berat setiap microsphere P-PCL dapat lebih ringan dibandingkan microsphere PCL konvensional dengan ukuran eksternal yang sama. Struktur tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi partikel untuk menghasilkan karakteristik degradasi dan interaksi dengan jaringan yang berbeda.
P-PCL juga dikembangkan untuk mendukung neocollagenesis, yaitu pembentukan kolagen baru sebagai bagian dari respons jaringan terhadap biostimulator.
Dengan demikian, P-PCL tidak hanya berorientasi pada efek pengisian, tetapi juga pada stimulasi kolagen untuk mendukung peningkatan kualitas jaringan kulit.
Bukti Pre-Klinis: Degradation dan Neocollagenesi
dr. Edwin juga memaparkan sejumlah data pre-klinis terkait keamanan dan efektivitas P-PCL.
Salah satu studi yang dibahas menunjukkan proses degradasi microsphere P-PCL pada model hewan selama periode observasi. Dalam studi tersebut, seluruh microsphere P-PCL dilaporkan mengalami degradasi secara bertahap selama masa observasi hingga 30 bulan.
Selain itu, studi tersebut juga mengevaluasi neocollagenesis melalui pengamatan terhadap pembentukan serat kolagen.
Temuan ini memberikan gambaran mengenai bagaimana karakteristik porous microsphere dapat berhubungan dengan proses remodeling jaringan.
Potensi PCL dalam Acne Scar Management
Selain skin rejuvenation, perkembangan collagen biostimulator juga dapat digunakan untuk kebutuhan acne scar management.
Acne scar merupakan kondisi yang kompleks karena melibatkan perubahan struktur dan kualitas jaringan kulit. Pendekatan treatment dapat membutuhkan kombinasi berbagai strategi sesuai dengan jenis, kedalaman, lokasi, dan kondisi kulit pasien.
Dengan kemampuannya untuk mendukung stimulasi kolagen, collagen biostimulator menjadi salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam strategi perbaikan kualitas jaringan.
Penggunaan P-PCL bukan semata-mata untuk menambahkan volume, tetapi juga skin remodeling and improvement of skin quality.
PCL Lebih dari Sekadar Filler
Perjalanan teknologi PCL menunjukkan bagaimana inovasi dalam aesthetic medicine terus berkembang dari sekadar volumization menuju pendekatan yang lebih kompleks terhadap jaringan.
Mulai dari perkembangan bentuk partikel, penggunaan carrier, hingga teknologi porous microsphere, setiap generasi membawa pendekatan baru terhadap bagaimana material dapat berinteraksi dengan jaringan.
Melalui materi “PCL Revolution: Skin Rejuvenation and Acne Scar Management Rising Demand” di ARUNA International Summit 2026, dr. Edwin Tanihaha menyoroti bahwa perkembangan PCL perlu dilihat bukan hanya dari perspektif filler, tetapi juga dari potensinya sebagai bagian dari pendekatan collagen stimulation, skin rejuvenation, structural support, dan skin quality improvement.