ST INDONESIA (STI) menyelenggarakan Expert Session ARCHE pada Sabtu, 5 September 2026, di Raffles Hotel Jakarta. Sesi ini menghadirkan Dr. Hyung-Suk Kim, Plastic Surgeon dan Pakar Hair Restoration terkemuka dari Korea Selatan.
Melalui sesi ini, para dokter mendapatkan insight mengenai perkembangan perawatan rambut dan kulit kepala. Fokus utama pembahasan adalah pemanfaatan ARCHE dengan teknologi Ideal Size Chitosan (ISC).
Pengalaman Klinis Dr. Hyung-Suk Kim
Sepanjang kariernya, Dr. Kim telah menangani lebih dari 16.000 kasus klinis. Pengalamannya mencakup lebih dari 3.000 prosedur transplantasi rambut, 3.000 kasus ARCHE monotherapy, serta 10.000 kasus perawatan rambut rontok non-bedah.
Dalam presentasinya, Dr. Kim menjelaskan perubahan paradigma perawatan rambut rontok di Korea Selatan. Menurutnya, perhatian terhadap perawatan non-bedah kini semakin meningkat.
“In South Korea, the paradigm of hair loss treatment is changing. In the past, there was greater interest in hair transplant surgery, but now the demand for non-surgical treatment is increasing, such as mesotherapy,” ujar Dr. Hyung-Suk Kim.
Selain itu, Dr. Kim membagikan pengalaman menggunakan ARCHE selama tiga tahun terakhir. Ia menyampaikan bahwa dirinya telah melakukan lebih dari 3.500 kali treatment menggunakan ARCHE.
Berdasarkan pengalamannya, Dr. Kim melihat respons terapi yang lebih cepat dan stabil dibandingkan beberapa agen yang sebelumnya digunakan.
“A few years ago, I first used ARCHE, and the treatment outcomes were very faster and more stable than previous agents. Based on my experience using more than 3,500 units treatments over the last three years, I prepared today’s talk,” jelasnya.
Chitosan sebagai Bagian dari Hair-Loss Treatment
Salah satu topik utama dalam sesi ini adalah chitosan, bahan yang menjadi dasar dari ARCHE. Dr. Kim menjelaskan bahwa chitosan merupakan biopolymer dengan muatan listrik positif.
Chitosan juga memiliki sejumlah karakteristik biologis. Dalam presentasinya, Dr. Kim membahas sifat antibakteri dan antijamur dari bahan tersebut.
Selain itu, ia memaparkan potensinya dalam mendukung aktivitas dermal papilla cells (DPC) berdasarkan studi laboratorium yang dibahas dalam presentasi.
“The key biologic property of chitosan is a unique biopolymer with a positive electric charge.”
Menurut Dr. Kim, karakteristik tersebut menjadi salah satu alasan pemilihan chitosan sebagai pendekatan dalam perawatan hair loss.
Lebih lanjut, Dr. Kim menjelaskan keunikan ARCHE dibandingkan produk chitosan lainnya. ARCHE menggunakan chitosan yang berasal dari mushroom chitin.
Sementara itu, chitosan yang berasal dari seafood menurut penjelasannya berpotensi menyebabkan reaksi alergi pada individu tertentu.
Dr. Kim juga menjelaskan proses produksi ARCHE. Produk ini menggunakan enzymatic hydrolysis untuk memecah chitosan menjadi partikel berukuran kecil. Proses tersebut ditujukan untuk mempertahankan karakteristik fisiologis chitosan.
Protokol ARCHE dalam Praktik Klinis
Selain membahas karakteristik chitosan, Dr. Kim membagikan pengalaman mengenai protokol penggunaan ARCHE.
Pertama, ARCHE diaplikasikan pada area rambut rontok. Selanjutnya, treatment dilanjutkan dengan microneedling.
Prosedur tersebut dapat dikombinasikan dengan far-infrared therapy dan low-level laser treatment. Menurut pengalaman yang dibagikan dalam sesi tersebut, keseluruhan prosedur berlangsung sekitar 20–30 menit.
Dr. Kim juga menjelaskan penggunaan superficial MTS. Menurutnya, pendekatan ini dapat membantu menciptakan pathway bagi ARCHE menuju area target. Oleh karena itu, deep MTS tidak selalu diperlukan.
Dalam sesi yang sama, Dr. Kim turut membagikan sejumlah tips berdasarkan pengalaman klinisnya. Salah satunya berkaitan dengan kondisi kulit kepala yang mengalami inflamasi.
Pada kondisi tersebut, pendekatan yang lebih gentle dapat dipertimbangkan. Dr. Kim juga menyoroti pentingnya kondisi kulit kepala, termasuk pH dan temperatur.
Menurutnya, ARCHE bekerja optimal pada kondisi pH sekitar 5–6. Sementara itu, aktivitas chitosan juga dipengaruhi oleh temperatur.
Karena itu, Dr. Kim tidak merekomendasikan cooling care setelah treatment ARCHE. Ia menyarankan agar area treatment tetap hangat.
ARCHE dan Perkembangan Non-Surgical Hair-Loss Treatment
Di akhir presentasinya, Dr. Kim menyampaikan kesimpulan berdasarkan pengalaman penggunaannya terhadap ARCHE.
Menurutnya, ARCHE dapat menjadi salah satu pilihan awal bagi klinik yang mulai mengembangkan layanan hair-loss management.
“In summary, ARCHE is a safe, mushroom chitosan product. Compared with other solutions, it demonstrates faster therapeutic response and rapid absorption. It can be used also on inflammatory scalps and is an excellent initial treatment option for clinics beginning hair-loss management.”
Dr. Kim juga menyampaikan rekomendasi interval treatment ARCHE. Menurut protokol yang dibagikannya, treatment dapat dilakukan setiap 7 atau 10 hari selama 4–5 bulan.
Clinical Data Sharing dan Live Demo ARCHE
Selain sesi bersama Dr. Kim, Expert Session ARCHE juga menghadirkan dr. Panji Respati S., Sp.D.V.E, dr. Auda Rusdin, M.Biomed (AAM), dan dr. Irfana Efendi.
Ketiganya membagikan pengalaman serta clinical data terkait penggunaan ARCHE dalam praktik.
Acara dilanjutkan dengan Live Demo ARCHE & Q&A. Para peserta dapat melihat secara langsung aplikasi dan penggunaan ARCHE.
Selanjutnya, dokter peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kepada para speaker.

Mendorong Edukasi dan Pertukaran Clinical Insight
Melalui Expert Session ARCHE, STI menghadirkan forum edukasi yang mempertemukan pengalaman klinis dan scientific insight mengenai perkembangan non-surgical hair-loss treatment.
Kehadiran Dr. Hyung-Suk Kim juga memberikan kesempatan bagi para dokter di Indonesia untuk mendapatkan perspektif internasional. Selain itu, sesi clinical data sharing dan live demo memberikan ruang untuk berdiskusi serta bertukar pengalaman.
STI berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi para dokter untuk terus memperluas wawasan. Dengan demikian, para peserta dapat mengikuti perkembangan inovasi dalam perawatan rambut dan kulit kepala serta terus mengembangkan pengetahuan dan praktik klinis di bidang hair-loss management.
